emh... tadinya aku tidak akan memakai lagi blog ini, tetapi sayang juga sudah banyak yang aku tulis di sini... akhirnya aku putusakan untuk memakai ini sebagai ruang untuk menulis puisi ataupun essai...
sekarang aku pindah menggunakan multiply... alamatnya
pagidansore.multiply.com
Thursday, January 22, 2009
Tuesday, August 12, 2008
Road To BonBin






9 Agustus 2008, sembilan kawanan 2003 mengadakan road to kebun binatang. Acara dimulai dengan janjian di lapang Gasibu.
“Aduh di mana sih WC yang ada jamnya itu?” gumamku dalam hati. Aku SMS Rina. Dia bilang di tempat yang ada WC-nya. Ah nyerah, akhirnya aku nanya juga ama ibu-ibu di sana. Akhirnya setelah mendapat petunjuk dari sang ibu aku berjalan dan menemukan sosok Asa yang sedang duduk di bangku.
Oh itu jamnya. Hah! Aku kira jamnya segede jam gadang. Jamnya ngaco pula.
Asa menyapa, tapi aku kebelet, jadi aku ke WC dulu. Emh!!! Males deh! Bayar 1000 buat WC yang nggak layak gitu. OH!!!
Lama kelamaan gerombolan si berat hehehe mulai bermunculan. Tak dinyana Rina yang menginformasikan padaku untuk menunggu di dekat jam pun salah menunggu.
Sedikit bercerita, eh si Andri kerja di transtv, tampak keren, tapi aku nggak pernah merhatiin narasi repotase sore ato liat kerabat kerjanya euy!
Dari gasibu kami lanjutkan perjalanan untuk pergi membeli makanan untuk botram. Minggir!!! Ada pohon yang lagi ditebang. Sayang banget! Makasih yah buat yang naktrir!
Kesan-kesan yang serius!
Aku tidak menyangka perjalanan ke kebun binatang berhasil membuang sedikit kejengahanku terhadap rutinitas yang biasa-biasa saja. Melihat binatang-bintang membuat aku bertanya-tanya apa yang mereka rasakan. Aku tak punya kesan panjang untuk mengungkapkan hari itu menyenangka. Walau hanya berputar-putar melihat binatang bersama teman-teman, tetapi rasanya aku hari itu nyambung dengan dunia. Tertawa memang membuat kita lebih hidup.
Hiburan yang menyenangkan melihat monyet jepang yang merah. Benar loh, monyet itu seperti orang jepang. Mita bilang itu monyet lebay karena sok selebritis. Yang paling aku sukai itu adalah pertunjukan siamang yang membuat aku sangat kagum dengan suara brisik mereka. andai kameraku tidak bermasalah kemarin. Ingin sekali aku merekam siamang yang berisik itu.
Emh...ups! ada kuda poni yang hahahaha! Sudahlah!
Yang jelas road to bonbin bukanlah pilihan yang buruk.
Thanks ya buat temen-temen yang ngajakin, yang barengan, yang traktirin, arigato!
Totemo tanoshikatta!
“Aduh di mana sih WC yang ada jamnya itu?” gumamku dalam hati. Aku SMS Rina. Dia bilang di tempat yang ada WC-nya. Ah nyerah, akhirnya aku nanya juga ama ibu-ibu di sana. Akhirnya setelah mendapat petunjuk dari sang ibu aku berjalan dan menemukan sosok Asa yang sedang duduk di bangku.
Oh itu jamnya. Hah! Aku kira jamnya segede jam gadang. Jamnya ngaco pula.
Asa menyapa, tapi aku kebelet, jadi aku ke WC dulu. Emh!!! Males deh! Bayar 1000 buat WC yang nggak layak gitu. OH!!!
Lama kelamaan gerombolan si berat hehehe mulai bermunculan. Tak dinyana Rina yang menginformasikan padaku untuk menunggu di dekat jam pun salah menunggu.
Sedikit bercerita, eh si Andri kerja di transtv, tampak keren, tapi aku nggak pernah merhatiin narasi repotase sore ato liat kerabat kerjanya euy!
Dari gasibu kami lanjutkan perjalanan untuk pergi membeli makanan untuk botram. Minggir!!! Ada pohon yang lagi ditebang. Sayang banget! Makasih yah buat yang naktrir!
Kesan-kesan yang serius!
Aku tidak menyangka perjalanan ke kebun binatang berhasil membuang sedikit kejengahanku terhadap rutinitas yang biasa-biasa saja. Melihat binatang-bintang membuat aku bertanya-tanya apa yang mereka rasakan. Aku tak punya kesan panjang untuk mengungkapkan hari itu menyenangka. Walau hanya berputar-putar melihat binatang bersama teman-teman, tetapi rasanya aku hari itu nyambung dengan dunia. Tertawa memang membuat kita lebih hidup.
Hiburan yang menyenangkan melihat monyet jepang yang merah. Benar loh, monyet itu seperti orang jepang. Mita bilang itu monyet lebay karena sok selebritis. Yang paling aku sukai itu adalah pertunjukan siamang yang membuat aku sangat kagum dengan suara brisik mereka. andai kameraku tidak bermasalah kemarin. Ingin sekali aku merekam siamang yang berisik itu.
Emh...ups! ada kuda poni yang hahahaha! Sudahlah!
Yang jelas road to bonbin bukanlah pilihan yang buruk.
Thanks ya buat temen-temen yang ngajakin, yang barengan, yang traktirin, arigato!
Totemo tanoshikatta!
Sunday, June 22, 2008
Bapak! 6 Mei 1940 - 20 Juni 2008
Bapak saat masih muda
Bapakku yang mengemari buku Andrea Hirata
Beberapa kali kulihat Bapak terharu membaca buku sang pemimpi
Bapakku bertemu penulis buku Laskar Pelangi, Andrea Hirata
Tempat peristirahatan Bapak yang terakhir
SAPRI HASJIM
6 Mei 1940-20 Juni 2008
20 Juni 2008 pukul 2 pagi lewat, Bapakku menghembuskan nafas terakhirnya di dunia. saat akhirnya nafasnya tak ada, air mataku baru bercucuran setelah beberapa detik berlalu. perasaan yang begitu bercampur aduk. berbagai penyesalan pun muncul. mengapa hari kamis itu aku tak banyak bicara dengannya. mengapa aku menyepelekan sakitnya hingga di akhir kematiannya tak sempat aku katakan maaf padanya. bhakan karena tertidur pulas aku tak mendengar teriakan bapak yang meminta maaf pada anak-anaknya. bapak maafkan aku!hari minggu kemarin rasa rindu menggelayuti hatiku. banyak kenangan walau rasanya masih kurang aku membuat kenangan dengannya.
aku ingat saat bapak memanggilku hanya untuk mengartikan sebuah lagu bahasa inggris yang tertulis di buku sang pemimpi milik Andrea Hirata. aku masih ingat saat bapak menangis membaca buku sang pemimpi di akhir ceritanya. sambil tertawa aku memberikan tisu pada bapakku. masih ingat saat bapakku menyuruh memberesakan lemari bukuku, tetapi selalu aku berkata nanti sampai akhirnya ia memberesakannya sendiri. aku pun masih ingat saat adikku selalu memintaku menjemur pakaian, tetapi karena aku tidak cepat melakukannya akhirnya bapakku yang menjemurnya dan akhirnya kami menjemurnya bersama-sama.
Pagi hari biasanya Bapak pergi ke mesjid dan pulang saat aku sedang menyapu rumah, aku rindu kenangan-kenangan itu. sosok bapak yang tertidur di sofa, bapak yang sedang mengurusi ayam-ayamnya, semuanya. bahkan bayangan saat bapak memarahi saat aku masih kecil pun menjadi sesuatu yang sangat berharga saat ini.
tak ada yang menyangka kepergiannya begitu cepat hingga aku pun masih bersikap seperti biasa saja. hari kamis siang ibuku menyruhku untuk membeli tempe untuk bapak makan, tetapi banyak sekali alasan yang aku katakan, tetapi untunglah akhirnya aku pergi juga untuk membeli pindang bandeng. aku menggorengnya walau satu sisinya agak gosong. aku siapkan makan siangnya. aku pun makan siang bersamanya. seandainya aku tidak melaksanakan itu pasti perasaan bersalah akan menggelayutiku, tetapi hari itu mengapa aku tak banyak bicara dengannya. padahal biasanya aku sering bercanda dengan bapak dan adikku yang sering bertanya pertanyaan-pertanyaan SPMB pada bapak.
Bapakku suka sekali membaca. ia begitu terharu dengan toko arai di sang pemimpi. ia suka sekali karya-karya Andrea Hirata. Ia merasakan hebatnya Maulana M Syuhada dalam 40 days in europe. dia membaca Dongmu karya Jamal. Ia sering mengucapkan "si dakocan" saat membaca Totto Chan. buku yang terakhir dia baca dan belum ia selesaikan adalah Girls in Riyads.
Kini yang ada dalam hatiku adalah agar Allah mencurahkan cinta-Nya untuk bapak hingga bapak dapat hidup dengan damai di sisi-Nya.
saat kecil bapak adalah sosok yang menakutkan bagiku, tetapi entah mengapa saat kemarin aku melihat foto-foto masa kecilku bersama bapak, yang aku rasakan hanyalah perasaan rindu akan sosoknya.
semoga semua perasaan ini adalah perasaan haru seorang anak karena insya Allah aku telah mengikhlaskan kepergiannya.
Bapak terima kasih!
Aku sayang bapak!
Friday, May 30, 2008
29-30 Mei 2008
Draft 1
Di atas langit kutemukan langit itu.
dan kutemukan rintikan hujan membasahi dunia nyamnku.
Aku lelah... tak ingin aku katakan kesesedihan yang tiada arti ini.
Seharusnya kutemukan kekuatan dari satu langkah yang pahit ini.
Kesejukanku redamlah sediku.
bangkitkan kehidupanku.
berikan nafasmu.
hidupkan aku.
Draft 2
Mungkin banyak yang tersisa dari langkah yang pahit.
entah manis atau mungkin memang pahit menyadari ketidakberdayaan diri.
aku ingin air mata indah membasahi pipiku da membuang kekerdilan diriku.
Di atas langit kutemukan langit itu.
dan kutemukan rintikan hujan membasahi dunia nyamnku.
Aku lelah... tak ingin aku katakan kesesedihan yang tiada arti ini.
Seharusnya kutemukan kekuatan dari satu langkah yang pahit ini.
Kesejukanku redamlah sediku.
bangkitkan kehidupanku.
berikan nafasmu.
hidupkan aku.
Draft 2
Mungkin banyak yang tersisa dari langkah yang pahit.
entah manis atau mungkin memang pahit menyadari ketidakberdayaan diri.
aku ingin air mata indah membasahi pipiku da membuang kekerdilan diriku.
Friday, May 23, 2008
Air

Mengapa aku memperjuangkan hidupku? terkadang aku tidak tahu, terkadang aku takut untuk tahu, terkadang semuanya memang tak ada jawabannya.
aku terus berjalan dan menatap orang-orang...
aku dan hatiku berlari, bersembunyi.
aku terkadang duduk terdiam dan air pun meluncur dari mataku.
ketentraman datang walau aku tak serupa.
sejuk walau aku bukanlah putih yang suci.
ada sayang yang selalu aku harap.
sayangi aku seumur hidupku.
Saturday, March 15, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)


